| Sponsored Links |
|
|
| Advertisements |
|
| Best Browser |
|
|
| Sponsor |
|
|
| Info Medicine |
|
|
| Music News |
|
|
| Hit Counter |
|
|
| ... |
| |
|
| e martë, 26 qershor 2007
|
|
Classical music |
Classical music is a term with three distinct meanings: • The European tradition of music which is associated with high culture, as distinct from popular or folk forms (including works in this tradition in non-European countries). • Similar non-European traditions. • A particular stage in the development of the European art music tradition, centered in the late 18th century. Classical music is a broad, somewhat imprecise term, referring to music produced in, or rooted in the traditions of, Western art, ecclesiastical and concert music, encompassing a broad period from roughly 1000 to the present day.[citation needed] The central norms of this tradition developed throughout this period but reached their heights of complexity and development in the period between 1550 and 1900: what is known as the common practice period.
[citation needed] This music evokes classical traditions, focuses on formal styles, invites technical and detailed deconstruction and criticism, and demands focused attention from the listener.[citation needed] It is written down using a formal notation and a work of classical music is usually defined by the notated version, rather than a particular performance of it. This music is associated with, and often compared to, fine art and high culture, sometimes leading to accusations of haughtiness and exclusivity being levelled at its enthusiasts. Nevertheless, many "classical" pieces were the popular music of their time,[citation needed] and have remained popular to this day. The public taste for and appreciation of formal music of this type is often described as having waned through the later part of the 20th century and into the present millennium, particularly in the USA and UK, although it continues to thrive elsewhere in the world.[1] Certainly, this period has seen classical music falling well behind the immense commercial success of popular music.[2] The term classical music did not appear until the early 19th century,[citation needed] in an attempt to "canonize" the period from Bach to Beethoven as an era in music parallel to the golden age of sculpture, architecture and art of classical antiquity (from which no music has directly survived). The earliest reference to "classical music" recorded by the Oxford English Dictionary is from about 1836.[citation needed] Since that time the term has come in common parlance to mean the opposite of popular music.[citation needed]
from : Wikipedia, the free encyclopedia
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 5.00.PD
 |
|
|
|
|
|
MUSIC ARTICLES |
Music is an art form consisting of sound and silence expressed through time. Elements of sound as used in music are pitch (including melody and harmony), rhythm (including tempo and meter), and sonic qualities of timbre, articulation, dynamics, and texture. The use of music, in its creation, performance, significance and even its definition, varies according to culture and social context. Music ranges from strictly organized compositions and performances to improvisational or aleatoric forms. For purposes of discussion and exploration of the topic, music is divided into genres and sub-genres, although the dividing lines and relationships between music genres are often unclear and/or controversial. Within "the arts", music can be classified as a performing art, a fine art, or an auditory art form.
Music may also involve generative forms in time through the construction of patterns and combinations of natural stimuli, principally sound. Music may be used for artistic or aesthetic, communicative, entertainment, ceremonial or religious purposes and by many composers purely as an academic instrument for study.
from : Wikipedia, the free encyclopedia
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 4.56.PD
 |
|
|
|
| e martë, 19 qershor 2007
|
|
Ketika Cinta Berbuah Surga |
Di tanah Kurdistan , ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas, dan pemberani. Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia mengajari anaknya itu membaca Al-Quran. Sang raja juga menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya.
Si kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang memutuskannya. Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya tiba-tiba pengawal masuk dan memberitahukan ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya. Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya,
“Said, Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”
Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.
“Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaiumu karena Allah. Dan Dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.”
“Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” tanya Said.
Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kau anggap cocok menjadi temanmu untuk makan pagi di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah kemudian apa yang mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga butir telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”
Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangnya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji, memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan.
Diantara teman anak raja itu, ada seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.
Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”
Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejati.
Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat. Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar.
Akhirnya, Said membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya.
“Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum.” Kata Said seraya meletakkkan piring itu di atas meja. Lalu, Said masuk kedalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung malahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke arah meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Ia kaget.
“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar. “Telah aku makan.” “Semuanya?” “Ya, habis aku lapar sekali.”
Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa.
Said merasa jengkel kapada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Akhirnya, Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.
Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.
Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan. Selesai salat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa?” “Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.” Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi temanmu.”
“Baiklah kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman yang seia-sekata.”
Said menyepakati syarat yag diajukkan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan. Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya, sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun.
“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu. “Pergilah ke ibu kota , berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana . Dia akan mengantarkanmu ke rumahku,” kata Said sambil tersenyum. “Insya Alloh aku akan datang.” Jawab anak pencari kayu itu.
Pagi harinya, anak pencari kayu sampai juga di istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya, dia ragu untuk masuk istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.
Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu. Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.
Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih. Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebitur telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau….?
Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu. Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata. “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”
Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Alloh swt. Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.
Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.
Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering malakukan shalat tahajud dan membaca Al-Quran bersama. Kecerdasaan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya.— baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Sumber : Ketika Cinta Berbuah Surga, Karya Habiburrahman El Shirazy
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 5.49.MD
 |
|
|
|
| e diel, 17 qershor 2007
|
|
Pemuda dengan Taubat Sejatinya |
Kisah kali ini menceritakan seorang pemuda kecil di waktu haji yang di ajarkan oleh Imam Malik bin Dinar beliau menjelaskan,
"Saat kami sedang mengerjakan ibadah haji, kami mengucapkan talbiyah dan berdoa kepada Allah SWT, tiba-tiba aku melihat seorang pemuda yang masih sangat muda usia memakai pakaian ihram dan menyendiri di tempat penyendiriannya tidak mengucapkan talbiyah dan tidak berdzikir mengingat Allah SWT seperti orang-orang lain lakukan. Aku mendatanginya dan bertanya padanya, 'mengapa kau tidak mengucapkan talbiyah ?'"
Pemuda tersebut menjawab, "Apakah talbiyah mencukupi bagiku, sedangkan aku sudah berbuat dosa dengan terang-terangan. Demi Allah! Aku khawatir bila aku mengatakan labbaik maka malaikat menjawab kepadaku, 'tiada labbaik dan tiada kebahagiaan bagimu'. Lalu aku pulang dengan membawa dosa besar."
Aku bertanya kepada pemuda tersebut, "Sesungguhnya kamu memanggil yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Pemuda tersebut bertanya kembali, "Apakah kamu menyuruhku untuk mengucapkan talbiyah ? "
dan Aku menjawab, " Ya."
Lalu pemuda tersebut berbaring di atas tanah, meletakkan salah satu pipinya ke tanah mengambil batu dan meletakkannya di pipi yang lain dan mengucurkan air matanya sembari berucap, "Labbaika Allaahumma labbaika, sungguh telah kutundukkan diriku kepada-Mu ya Allah dan badan telah kuhempaskan di hadapan-Mu."
Kemudian aku melihatnya lagi di Mina dalam keadaan menangis dan dia bekata, "Ya Allah SWT, sesungguhnya orang-orang telah menyembelih kurban dan mendekatkan diri kepada-Mu, sedangkan aku tidak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mendekatkan diri kepadamu kecuali diriku sendiri, maka terimalah pengorbanan diriku. Kemudian dia pingsan dan tersungkur mati. Akupun mohon kepada Allah agar Dia mau menerima amal ibadah dan toubatnya, toubat yang sejati.
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 8.54.MD
 |
|
|
|
| e shtunë, 16 qershor 2007
|
|
Sang Lelaki Sejati |
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Ada seorang pemuda yang kaya raya, hendak pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk hewan unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya. Setelah semua dirasanya siap, dia pun memulai perjalanannya.
Di tengah perjalanan, dia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu duduk di bawah pohon. Akhirnya, dia terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.
Ketika pemuda tersebut sedang tidur, tali yang mengikat untanya lepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Dia juga merusak segala yang dilewatinya.
Dan penjaga kebun itu adalah seorang kakek yang sudah tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu. Namun, dia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, lalu sang kakek membunuhnya.
Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, dia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun. Pada saat itu, seorang kakek datang.
Pemuda itu bertanya, "Siapa yang membunuh unta ini?"
Kakek itu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, terpaksa dia membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda sangat marah hingga tak terkendalikan. Serta-merta, dia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu menyesal atas apa yang diperbuatnya. Dia berniat kabur.
Saat itu, datanglah dua orang anak sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya. Kemudian, keduanya membawa pemuda itu untuk menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar bin Khatab ra. Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukuman bagi orang yang membunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka. Kemudian, Umar bertanya kepada pemuda itu. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Dia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Umar berkata, "Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah. Seketika itu, sang pemuda meminta kepada Umar, agar dia diberi waktu dua hari untuk pergi ke kampungnya, sehingga dia bisa membayar hutang-hutangnya.
Umar bin Khatab berkata, "Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi ke sini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu." Pemuda itu menjawab, "Aku orang asing di negeri ini, Amirul Mukminin, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin."
Sahabat Abu Dzar ra yang saat itu hadir di situ berkata, "Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ini tidak datang lagi setelah dua hari."
Dengan terkejut, Umar bin Khatab berkata, "Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar ... wahai Sahabat Rasulullah?"
"Benar, Amirul Mukminin," jawab Abu Dzar lantang.
Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishash, orang-orang menantikan datangnya pemuda itu. Sangat mengejutkan! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia sampai di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandangnya dengan rasa takjub.
Umar bertanya kepada pemuda itu, "Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?" Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, 'tidak ada lagi orang yang menepati janji di kalangan umat Islam', dan agar orang-orang tidak mengatakan 'tidak ada lagi lelaki sejati, kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat Muhammad saw!" Lalu, Umar melangkah ke arah Abu Dzar AI-Ghiffari dan berkata, "Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?"
Abu Dzar menjawab, "Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa 'tidak ada lagi lelaki jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat Muhammad saw'." Mendengar itu semua, dua orang lelaki anak kakek yang terbunuh itu berkata, "Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apa pun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat Muhammad saw."
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 11.08.MD
 |
|
|
|
|
|
Ulama Penakluk Singa |
THULUN adalah seorang budak milik Amir Nuh bin Asad, anak buah Khalifah Makmun yang diberi kekuasaan memerintah daerah Bukhara dan Khurasan. Oleh Amir Nuh, Thulun dihadiahkan pada khalifah bersama puluhan budak lainnya. Ternyata, Thulun memiliki keceerdasan, ketangkasan, dan pengabdian yang hebat. Akhirnya, khalifah mengangkat derajatnya dengan menjadikan dia sebagai komandan yang menguasai para budak dan pekerja kasar.
Pada tahun 220 Hijriah, anak Thulun lahir. Dia diberi nama Ahmad. Anak itu tumbuh dan berkembang dalam kondisi rendah diri berbalut kekerasan. Ahmad berusaha menutupi kekurangannya. Dia tumbuh lebih dewasa dari usia sebenarnya. Karena pengaruh lingkungan, Ahmad bagaikan memiliki dua akal dari dua manusia yang berbeda; akalnya yang satu seakan bersama malaikat, dan yang satunya bersama setan.
Ahmad bin Thulun atau lebih dikenal Ibnu Thulun, telah hafal al-Quran secara baik pada waktu kecil. Dia termasuk anak yang suaranya indah dan sangat tekun belajar. Dia cukup menguasai mazhab Imam Abu Hanifah.
Ketika sang ayah wafat, Ibnu Thulun diangkat menjadi komandan, menggantikan ayahnya. Keadaan terus berubah, sampai akhirnya dia bisa menjadi raja besar yang menguasai Mesir dan Syam sekaligus. Saat memerintah, dia bagai dua orang dalam satu tubuh. Suatu ketika, dia bagai malaikat yang suei. Namun, di lain waktu, dia seperti setan yang sangat jahat.
Ketika jiwa malaikat dalam dirinya muncul, dia cinta pada kebaikan dan beramal baik. Dia menyantuni fakir miskin, membangun masjid dan rumah sakit, serta mencintai ulama dan para penuntut ilmu. Namun, kerap kali jiwa setannya juga keluar sehingga dia bersikap jahat, lalim, dan kejam.
Tatkala kelaliman dan kekejamannya memuncak, rakyat tidak tahan lagi. Mereka mengadukan kezaliman Raja Ahmad bin Thulun kepada Imam Abil Hasan Ahmad bin Banan atau dikenal dengan sebutan Ibnu Banan. Beliau adalah seorang ulama yang dikenal berani menegakkan kebenaran dan tidak takut kepada Celaan siapa pun.
Ibnu Banan langsung bergegas pergi untuk menemui Ibnu Thulun. Dia menerobos masuk istana. Saat itu, Ibnu Thulun sedang mengumpulkan seluruh menteri dan para pemuka masyarakat. Tanpa basa-basi, di hadapan Ibnu Thulun dan seluruh menterinya, Imam Ibnu Banan berkata, "Wahai Ibnu Thulun, penguasa Mesir dan Syam, bertakwalah kepada Allah dan jangan mezalimi rakyat. Kelak, di hadapan Allah yang Maha adil, engkau akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu, yaitu di hari ketika harta dan anak tidak bisa memberi manfaat apa-apa kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus dan bersih. Ketahuilah, orang yang mendustai rakyatnya tidak akan mencium bau surga.
Seketika itu, suasana di dalam istana dicekam keheningan. Ibnu Thulun dan orang-orang yang hadir di situ tidak percaya pada apa yang mereka dengarkan dan mereka lihat. Bagaimana mungkin seorang Ibnu Banan berani berbicara dengan begitu lantang di hadapan Raja Ibnu Thulun?
Semua mata tertuju pada Sang Raja. Mereka menanti apa yang akan dilakukannya, dan titah apa yang keluar dari mulutnya. Saat itu, mereka benar-benar terpaku dan terkejut oleh keberanian Ibnu Banan. Ternyata sang Raja Ibnu Thulun bergetar. Mukanya merah padam. Matanya menyorotkan ribuan kejahatan.
Dengan suara keras, dia berteriak memberikan perintah pada pengawal yang ada, "Tangkap orang gila ini dan jebloskan ke dalam penjara!" Secepat kilat, para pengawal yang kekar itu meringkus Imam Abil Hasan bin Banan dan menggelandangnya ke penjara. Majelis pertemuan raja dan para menterinya itu pun bubar. Ibnu Thulun masuk ke kamarnya untuk beristirahat mendinginkan kemarahannya. Namun, kasurnya yang empuk terasa bagaikan tumpukan duri-duri panas. Akalnya benar-benar telah mendidih mendengar perkataan Ibnu Banan tadi.
Dia langsung memanggil pengawalnya, "Bawa kemari orang gila 'itu!" Tak lama kemudian, Imam Ibnu Banan telah berada di hadapan Raja Ibnu Thulun dengan menegakkan kepalanya.
Ibnu Thulun berkata padanya, "Hai Abu Hasan, bagaimana kau berani melakukan hal seperti itu didepan orang banyak.? ...
Tetapi tak apa, aku akan mengampunimu jika kamu mau meminta maaf kepadaku di hadapan orang banyak."
Dengan tegas, Ibnu Banan menjawab, "Aku tidak melakukan dosa! Aku hanya memberi nasihat."
Dengan gusar, Ibnu Thulun berteriak kepada para perajuritnya, "Seret orang gila ini ke penjara! Siapkan singa paling ganas, jangan beri makan selama tiga hari! Biar orang gila ini yang akan jadi santapannya! Aku tidak mau mataku melihat tampangnya lagi." Ibnu Banan menyahut tenang, "Umur ada di tangan Allah, Ibnu Thulun. Kau hanyalah seorang hamba dari sekian banyak hamba Allah. Kau tidak akan memendekkan atau memanjangkan umurku sama sekali." Para prajurit menyeret Ibnu Banan yang kedua tangan dan kakinya dirantai dengan besi. Mereka menjebloskannya kembali ke dalam penjara. Anak lelaki Ibnu Thulun sangat suka memelihara singa dan harimau. Jika dia mendengar ada singa di suatu daerah, pasti diburunya dan diletakkan di dalam kerangkeng dan ada di dalam istana. Tidak heran jika dia memiliki koleksi kumpulan singa yang sangat banyak.
Kemudian, seorang pengawal mengambil singa yang paling ganas dan kuat lalu membuatnya lapar selama tiga hari.
Tiga hari kemudian, Ibnu Banan diambil dari selnya dan diletakkan di sebuah tempat yang cukup lapang yang menyerupai kolosium (arena tempat para ksatria pada zaman Romawi bertarung).
Di sana, orang-orang dipersilakan menonton bagaimana singa yang kelaparan itu akan mencabik-cabik tubuh Ibnu Thulun. Kerangkeng singa itu dibuka. Singa yang tidak makan tiga hari itu langsung meloncat dan mengaum keras bagai suara guntur. Orang¬ orang yang menontonnya sudah merinding. Sementara, Imam Ibnu Banan masih tenang sujud pada Allah Swt.
Tatkala singa itu sudah dekat dengan Ibnu Banan, tiba-tiba singa itu berhenti lalu duduk dan menundukkan kepalanya. Setelah itu, ia bangkit dan mendekati Ibnu Banan. Ternyata, ia tidak memangsa Ibnu Banan. Akan tetapi, singa itu malah menjilati kaki beliau dan menggesek-gesekkan kepalanya pada tubuh Tbnu Banan dengan penuh persahabatan.
Seolah-olah, singa itu ingin berkata pada Raja Ibnu Thulun, "pertarungan ini bukan pertarungan antara singa dengan Ibnu Banan. Juga bukan pertarungan antara Ibnu Banan dengan Ibnu Thulun. Akan tetapi, pertarungan antara kehendak Allah Swt dengan kehendak Raja Ibnu Thulun."
Menyaksikan hal itu, semua orang yang menonton, menjadi takjub tak terkira. Lebih-lebih Ibnu Thulun dan para prajuritnya. Lalu, Ibnu Thulun memerintahkan kepada para prajurit untuk mengembalikan singa itu ke kandangnya dan membawa Ibnu Banan ke hadapannya.
Ibnu Banan akhirnya kembali berdiri di hadapan Sang Raja Ibnu Thulun dengan menegakkan kepalanya. Sang Raja bertanya, "Bagaimana keadaanmu, Abu Hasan?" "Alhamdulillah, baik-baik saja seperti yang kau lihat, " jawab Ibnu Banan.
''Apa yang ada didalam hatimu? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya raja.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya membaca firman Allah. ‘Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami'." (QS Ath Thuur [52]: 48)
"Aku juga sedang berpikir tentang jilatan singa, suci ataukah najis?" lanjut Ibnu Banan.
Seketika itu, Raja Ibnu Thulun bangkit dan mencium kepala Imam Ibnu Banan, lalu meminta maaf kepadanya dan membebaskannya.
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 11.06.MD
 |
|
|
|
|
|
Sang Dermawan |
Kisah ini menceritakan tentang seseorang yang amat dermawan, tanpa panjang lebar kita langsung mulai saja ceritanya, Siang itu Mahmud sampai di rumahnya yang megah dan mewah seperti istana raja, dalam keadaan letih dan lapar. Di atas meja makan telah tersedia beraneka makanan lezat yang disukainya. Serta buah-buahan seperti Anggur, pir, Apel dan delima. Akan tetapi, tangannya sama sekali tidak menyentuh makanan itu. Entah mengapa, tiba-tiba dia kehilangan selera makan. Mahmud memanggil pembantunya yang bernama Rajah Dia meminta kepada pembantunya untuk mengembalikan makanan itu dari tempatnya, dan mengeluarkan kudanya dari kandang.
"Tuanku, mengapa Tuanku keluar sekarang? Saat ini sedang panas ¬panasnya. Bumi seperti dipanggang, padang pasir bagai menguapkan bara api. Tidakkah Tuanku lebih baik tidur seperti biasanya?" kata Rajab mengingatkan. Rajab sangat sayang dan hormat pada tuannya yang baik hati itu.
Mahmud menjawab, "Aku tidak tahu Rajab, mengapa aku tidak memiliki selera makan atau tidur sedikit pun. Aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba aku ingin pergi menaiki kuda."
Mahmud keluar dari rumahnya dengan menunggang kuda putihnya. Dia melesat menuju tengah padang pasir. Pijaran sinar matahari seakan menjilati ubun-ubun kepalanya. Dia merasakan panas luar biasa. Beberapa kali dia mengusap keringatnya dan terus menunggang kudanya, tanpa tujuan.
Karena panas yang tidak terkira, dia cepat-cepat memacu kudanya ke kota terdekat. Di tengah jalan, dia melihat ada rumah kecil. Di depannya tumbuh tanaman yang hijau. Mahmud mendekati rumah itu dan menjumpai seorang pembantu yang berdiri di depan pintu.
Mahmud menyapa, "Nak, apakah kau memiliki air yang bisa aku minum?"
Pembantu yang masih muda belia itu menyahut dengan ramah, "Jangan berdiri di luar seperti itu, Tuan! Saya perhatikan Anda sangat lelah dan letih karena kepanasan dalam perjalanan. Ayolah, jangan sungkan, mari, silakan masuk! Saya akan mengambilkan air dingin untuk Anda. Juga sapu tangan untuk menghapus keringat Anda."
"Betapa cerdasnya kamu, Nak' Hatimu juga lembut dipenuhi rasa kasih sayang," tukas Mahmud sambil tersenyum.
Anak muda itu pergi ke dalam rumah meninggalkan Mahmud. Tidak berapa lama kemudian, dia kembali dengan membawa satu mangkuk air dingin dan sapu tangan yang harum baunya. Mahmud menerima mangkuk itu dan meminumnya dengan penuh rasa nikmat. Lalu, dia mengusap keringatnya dengan sapu tangan yang harum itu. Dia merasa segar kembali. Setelah dirasa cukup, dia meminta diri sambil mengucapkan rasa terima kasih kepada pembantu muda itu. Mahmud membawa kudanya kembali ke rumahnya.
Di tengah jalan, dia mendengar muazin mengumandangkan azan. Azan itu menggema indah, memanggil hamba-hamba Allah untuk memetik kebahagiaan. Mahmud langsung mengarahkan langkah kudanya menuju masjid. Setelah selesai shalat, ketika Mahmud sedang bersiap keluar dari dalam masjid, dia melihat lelaki buta sedang berjalan tertatih-tatih menuju ke arahnya. Mahmud mendekati orang buta itu dan bertanya, "Apa yang kau inginkan, Pak?"
"Aku ingin menemuimu," jawab orang buta itu. "Mengapa kau ingin menemuiku?" tanya Mahmud kembali. "Karena dari jauh aku mencium bau harum dari badanmu, aku tahu bahwa kau pasti orang yang makmur dan berkecukupan. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Apakah kau melihat rumah besar di depan masjid ini? Dulu itu adalah rumah ayahku. Beliau menjualnya pada temannya yang dicintainya. Beliau banyak bercerita kepadaku tentang temannya itu. Ayah bilang, kalau temannya itu seorang sosok pemurah, hatinya halus nan lembut, dan terkenal dengan rasa sayangnya kepada kaum miskin, dan siapa saja yang membutuhkan pertolongan," jawab orang buta itu panjang lebar. Seketika itu, Mahmud bertanya padanya dengan penuh kesungguhan, "Lalu, di mana ayahmu sekarang?"
"Setelah ayahku menjual istana ini, dia membawaku sekeluarga pergi berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain. Karena ayahku sangat boros, akhirnya dia tidak memiliki apa-apa. Aku kehilangan penglihatanku karena sakit. Keadaanku terus memburuk. Aku menjadi sangat miskin .... Apakah kau bisa menolongku dan membawaku menemui pemilik rumah itu? Siapa tahu dia mau mendengar keluhan dan deritaku. Siapa tahu dia punya rasa kasihan padaku dan berkenan membantuku, " jawab orangbuta dengan wajah sedih.
Mahmud pun tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Orang buta yang ada di hadapannya ini adalah anak sulung dari teman karibnya yang sudah sepuluh tahun lebih tidak berjumpa dengannya. Dengan hati bergetar Mahmud berkata, "Sungguh menakjubkan apa yang aku alami hari ini. Aku kehilangan selera makan sejak pagi. Akujuga tidak bisa tidur. Aku disergap rasa cemas yang tidak kuketahui sebabnya. Tiba-tiba di tengah teriknya panas matahari, aku ingin pergi dengan menunggang kuda. Ternyata, ini semua telah diatur Allah Swt, hingga aku bisa bertemu dan mendengarkan deritamu."
Mendengarnya, orang buta itu tersadar dengan siapa dia bicara. Seketika dia bertanya dengan nada histeris, "Demi Allah, jadi Anda ... Anda adalah Tuan Mahmud?" Mahmud menjawab, "Ya. Akulah Mahmud, sahabat dekat ayahmu." Seketika Orang buta itu mengangkat tangannya ke langit, "Subhanallah' .Allahu Akbar! Alangkah agungnya aturan-Mu, ya Rabb."
Mahmud merogoh sakunya dan mengeluarkan kantong berisi uang. "Ini ada seribu dinar. Hari ini aku menerima hasil sewa tanahku dari seorang pegawaiku. Seolah-olah ini dikirim Allah Swt untuk aku sampaikan ke tanganmu. Ayo, terimalah. Itu rezeki untukmu."
Kemudian, orang buta itu menerima uang itu sambil berkata, "Segala puji dan rasa syukur milik Allah. Mahasuci Allah yang telah meletakkan rasa rahmat dalam hati kaum muhsinin sehingga hati mereka lembut dan menyayangi kaum fakir miskin."
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 11.05.MD
 |
|
|
|
|
|
Akibat Mimpi Melihat Neraka |
Di ZAMAN Baginda Rasulullah saw, jika para sahabat yang mulia bermimpi, biasanya mereka akan mengadukan dan menceritakannya tentang mimpi tersebut kepada Baginda Rasul. Suatu malam, seorang sahabat nabi yang masih remaja bernama Abdullah bin Umar ra, pergi ke Masjid Nabawi. Dia membaca al-Quran sampai kelelahan. Setelah cukup lama membaca al-Quran, dia hendak tidur.
Dan Seperti biasa, sebelum tidur dia menyucikan diri dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan dan berdoa, "Bismika Allahumma ayha wa bismika amutu; ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati." Demikianlah, Baginda Rasul menuntunnya cara tidur yang baik.
Sehingga, dalam tidur pun, malaikat masih mencatatnya sebagai orang yang tidak lalai. Dengan menyucikan diri, ruh orang yang tidur akan mendapatkan hikmah dan siraman doa para malaikat. Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.
Di dalam mimpinya, dia berjumpa dengan dua malaikat. Tanpa bicara satu patah kata pun, kedua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagai sumur yang menyalakan api berkobar-kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menanggung siksa yang tiada tara pedihnya.
Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, "A’udzubillahi minannaar! Aku berlindung kepada Allah dari api neraka." Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, "Kau belum terjaga dari api neraka!" Kemudian di pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis mengingat mimpi yang dialaminya tersebut. Lalu, dia pergi ke rumah Hafshah binti Umar, istri Rasulullah saw. Dia menceritakan perihal mimpinya itu dengan hati yang cemas.
Setelah itu, Hafsah menemui Baginda Nabi dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu pada beliau.
Seketika itu, beliau bersabda, "Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!"
Mendengar sabda Nabi itu, Hafshah bergembira.
Dia langsung bergegas menemui adiknya, Abdullah bin Umar dan berkata, "Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpimu itu, malaikat yang terakhir kau temui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kau ingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah salat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam; waktu di mana Allah Swt memanggil-manggil hamba-Nya; waktu ketika Allah mendengar doa hamba-Nya."
Sejak saat itu, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan shalat tahajud sampai akhir hayatnya. Bahkan, kerap kali dia menghabiskan waktu malamnya untuk shalat dan menangis di hadapan Allah Swt. Setiap kali mengingat mimpinya itu, dia menangis. Dia berdoa kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka.
Di tambah lagi jika dia juga ingat sabda baginda Nabi saw, "Sesungguhnya, penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua tepak kakinya bara api yang membuat otaknya mendidih Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka."
Dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah, agar termasuk hamba-hamba-Nya yang terhindar dari siksa neraka dan memperoleh kemenangan surga. Akhirnya, dia bisa merasakan betapa nikmatnya shalat tahajud.
Betapa besar dan agungnya keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pada malam hari, waktu dimana Allah memanggil dan mendengar doa hamba-hamba-Nya.
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 5.15.PD
 |
|
|
|
| e premte, 15 qershor 2007
|
|
Pahala Takut kepada Allah |
Di dalam sebuah Hadits Qudsi, ada riwayat mengenai balasan yang diberikan Allah kepada orang yang takut kepada-Nya.
Baginda Rasulullah saw bersabda, "Ada seorang Ielaki yang tidak pemah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki itu berwasiat kepada keluarganya, 'Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan, dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta"
Ketika lelaki itu meninggal dunia, Keluarganya melaksanakan apa yang telah dia wasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu.
Kemudian, Allah Swt bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), 'Mengapa kau lakukan semua ini.
Lelaki itu menjawab, 'Karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.' Allah Swt lalu mengampuninya. Kisah dalam Hadits Qudsi ini begitu menggelitik dan penuh hikmah. Seseorang yang selalu berbuat maksiat dan tidak pernah beramal shalih sedikit pun, masih memiliki rasa takut kepada Allah Swt. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia. Ketakutannya ini membuatnya berwasiat bodoh. Setelah mati, dia ingin mayatnya dibakar dan abunya disebar di daratan dan lautan. Dengan begitu, dia berharap tidak akan bisa dihisab oleh Allah Swt. Dia ingin selamat dari azab Allah Swt. Dia yakin Allah itu ada. Dia pun yakin, hisab Allah itu ada dan hisab itu menunggu setelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan cara menyebar lumatan tubuhnya di darat dan di laut.
Akan tetapi Allah yang Maha kuasa tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Pada akhirnya, Allah mengampuni lelaki itu berkat rasa takutnya pada keagungan Allah Swt. Hikmah dari cerita yang dapat diambil dari kisah tadi adalah, sekecil apa pun keimanan dalam dada seseorang (yaitu keyakinan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendatangkan ampunan dan rahmat Allah Swt. Bagaimana jika rasa takut kepada Allah itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah, akan lebih besar dan agung.
Di dalam al-Quran, Allah Swt telah befirman dan memberikan kabar gembira, "Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (QS an- Naazi' aat [79]: 40-41).
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 10.42.MD
 |
|
|
|
|
|
Masuk Surga dan Masuk Neraka di sebabkan Seekor Lalat |
Imam Thariq bin Syihab pernah berkata dalam majelis pengajiannya, "Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada pula yang masuk neraka karena seekor lalat."
Hal tersebut mengakibatkan semua kaum Muslimin yang hadir dalam pengajian tersebut seketika itu juga terperanjat mendengar perkataan Imam Thariq bin Syihab. Mereka penasaran dengan hal yang di sampaikan Imam Thariq bin Sihab.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya mereka serempak.
Lalu Imam Thariq bin Syihab menuturkan sebuah kisah indah, "Ada dua orang melakukan pengembaraan. Suatu hari, mereka memasuki daerah yang didiami oleh sebuah kaum yang menyembah berhala. Kaum itu memiliki berhala yang disembah dan dikeramatkan. Orang yang melewati daerah mereka, harus memberikan korban sebagai sesembahan untuk berhala itu. Jika tidak mau memberikan korban, maka mereka tidak akan dibiarkan keluar dari daerah itu dalam keadaan hidup.
Dua orang itu pun mengalami hal yang sama. Mereka harus memberikan sesembahan pada berhala. Lelaki pertama sangat takut pada kematian. Karena dia tidak memiliki apa-apa, akhirnya dia menangkap seekor lalat dan memberikannya kepada berhala ilu sebagai sesembahan.
Sedangkan lelaki yang kedua, tetap teguh memegang akidahnya.
Dia tidak mau berkorban untuk berhala itu, meskipun dengan seekor lalat. Dia memilih untuk taat pada ajaran agamanya; berkorban hanya boleh dilakukan jika sesuai dengan syariat, yaitu kurban Idul Adha yang dilakukan ikhlas karena Allah. Sedangkan memberikan sesembahan pada berhala, - meskipun hanya dengan seekor lalat - adalah perbuatan menyekutukan Allah. Itu adalah dosa paling besar Akhirnya, dia dibunuh. Lelaki tersebut mati syahid mempertahankan akidahnya dan masuk ke dalam surga.
Adapun lelaki yang satunya, akhirnya meneruskan perjalanan.
Namun naas betul nasibnya, baru berjalan beberapa puluh langkah saja di tengah padang pasir, lelaki itu digigit ular berbisa dan akhirnya mati. Namun, dia mati dalam keadaan musyrik (menyekutukan Allah) Dia masuk neraka karena menyekutukan Allah, dengan mempersembahkan seekor lalat pada berhala."
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 10.39.MD
 |
|
|
|
|
|
Malaikat dan Tiga Lelaki Cacat |
Cerita Online kali ini akan menceritakan riwayat Malaikat dan tiga lelaki cacat, Lelaki pertama, terkena penyakit belang; kulitnya dipenuhi bercak-bercak putih. Lelaki kedua, botak; kepalanya tidak ditumbuhi sehelai rambut pun. Sedangkan lelaki ketiga, buta; kedua matanya tidak bisa melihat apa-apa.
Lelaki pertama yang terkena penyakit belang, berdoa kepada Allah, "Ya Allah, ya Tuhanku, sembuhkanlah aku dari penyakit belang yang menutupi kulitku dan membuat buruk rupa serta bentukku ini."
Lelaki kedua yang botak juga berdoa. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa, "Ya Allah, Ya Tuhanku, sembuhkanlah diriku dari penyakit botak ini. Tumbuhkanlah rambut di atas kepalaku sebagaimana manusia pada umumnya."
Lelaki ketiga tidak mau ketinggalan, lelaki buta juga berdoa, "Ya Allah, ya Tuhanku, sembuhkanlah diriku dari kebutaan dan jadikanlah mataku bisa melihat sebagaimana manusia lainnya."
Pada waktu doa itu dipanjatkan, ada malaikat turun dari langit. Malaikat itu menjelma dalam bentuk seorang lelaki yang berwajah tampan bercahaya. Dia diutus oleh Allah Swt untuk menguji ketiga lelaki tadi.
Lalu, sang malaikat mendekati ketiga lelaki. Dia menanyai mereka satu per satu, ihwal apa yang mereka minta, serta harta apa yang paling mereka sukai.
Lelaki pertama yang berkulit belang meniawab, •"Aku minta tubuhku berbentuk indah dan berkulit bersih mulus. Harta yang aku sukai adalah unta."
Lelaki kedua yang botak berkata, "Kalau aku, minta rambut lebat dan hitam, yang membuat indah kepalaku. Sedangkan harta yang paling kuinginkan adalah sapi."
Lelaki ketiga yang buta juga menjawab, "Adapun aku, aku berharap Allah berkenan menyembuhkan mataku dan mengembalikan penglihatanku. Harta yang aku suka adalah kambing."
Setelah mendengar itu semua, malaikat mengusap kulit si belang dengan tangannya. Seketika itu juga, kulitnya berubah menjadi indah seperti yang dimintanya. Lelaki itu pun mendapatkan seekor unta yang sedang hamil tua.
Kemudian, malaikat mengusap kepala lelaki botak. Tiba-tiba, rambut yang hitam lebat telah menghiasi kepala yang tadinya botak itu. Lantas, malaikat itu memberinya seekor sapi yang sedang hamil tua. Terakhir, sang malaikat mengusap mata lelaki buta. Mata itu sembuh dan bisa melihat seketika. Lalu, malaikat itu juga memberinya kambing yang sedang hamil tua. Waktu dami waktu yang terus bergulir. Hari-hari telah berlalu, dan tahun telah berganti tahun. Ketiga lelaki itu hidup dalam kemakmuran dan kecukupan. Mereka semua menjadi orang kaya yang terpandang dan dihormati oleh masyarakat.
Lelaki pertama memiliki ratusan unta. Lelaki kedua, sapinya telah beranak-pinak tak terhitung jumlahnya. Sementara itu, lelaki ketiga telah memiliki kandang kambing yang banyak jumlahnya.
Allah ingin menguji ketiga lelaki itu. Dia mengirim kembali malaikat yang dulu pernah dikirim untuk menyembuhkan mereka. Kali ini, malaikat itu menjelma sebagai lelaki yang miskin, pakaiannya kumuh dan compang-camping.
Mula-mula, malaikat itu pergi menemui lelaki pertama dan berkata, "Aku minta padamu tuan, dengan nama Allah yang memberimu tubuh indah dan harta melimpah, aku minta engkau berkenan memberiku bekal untuk melanjutkan perjalanan."
Lelaki pertama itu menjawab, "Ini hartaku. Aku warisi dari kakekku. Aku banyak urusan. Pergilah, tak ada bagian untuk pengemis kumuh dan pemalas sepertimu!"
Malaikat itu pun pergi meninggalkan lelaki pertama dan beranjak menuju lelaki kedua dan berkata, "Aku minta padamu tuan, dengan nama Allah, Tuhan yang memberimu rambut indah dan harta melimpah, sudilah kiranya kau membantu saudaramu yang miskin ini dengan sedikit kenikmatan yang ada padamu?"
Lelaki kedua menjawab, "Aku warisi harta ini dari nenek moyangku. Pergilah kau dari sini wahai pengemis gembel!"
Malaikat itu pun pergi dan meninggalkannya untuk menemui lelaki ketiga. Setelah bertemu, dia berkata, "Aku minta padamu dengan nama Allah, Tuhan yang mengembalikan penglihatanmu, berilah aku seekor kambing saja dari yang kau punya, agar aku bisa minum susunya dalam perjalanan."
Lelaki ketiga menjawab, "Ya, aku dulu memang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Sebagai rasa syukurku, ambillah berapa kambing yang kau suka dan sisakan sebagian. Demi Allah aku tidak akan menghalangimu untuk ikut menikmati rezeki yang telah dikaruniakan Allah kepadaku."
Malaikat itu lalu berkata, "Hartamu akan tetap menjadi milikmu. Allah Swt telah menguji kalian bertiga. Allah memberikan ridha-Nya padamu, karena kamu mau mensyukuri nikmat dan mau menyedekahkan sebagian rezeki yang diberikan Allah padamu. Namun, Allah murka pada dua temanmu yang mengingkari nikmat-Nya dan tidak mau bersedekah. Kini, mereka berdua kembali seperti sedia kala, yang satu kulitnya kembali belang dan hartanya lenyap, dan yang satunya lagi kembali botak dan miskin, tidak memiliki apa-apa."
" .. Sesungguhnya Jika kamu bersyukur; pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih." (QS Ibrahim [14]: 7).
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 10.36.MD
 |
|
|
|
|
|
Pemuda Sholeh Penakluk Syahwat |
Kisah ini terjadi di kota Madinah, di kota tersebut ada seorang pemuda yang selalu shalat berjamaah bersama Umar bin Khatab ra. Jika anak muda itu tidak datang ke masjid, Umar pasti menanyakannya. Pemuda tersebut begitu santun dan tampan.
Setiap pergi menuju masjid, pemuda itu harus melewati beberapa rumah penduduk. Dan Di antaranya ada rumah yang dihuni oleh seorang gadis cantik. Gadis itu sering melihat pemuda yang setiap hari pulang dan pergi ke masjid. Pemuda itu sama sekali tidak tahu kalau ada seorang gadis cantik yang selalu memperhatikannya, dan bahkan diam-diam mencintainya.
Karena mungkin tidak mampu lagi membendung rasa cintanya, gadis itu menceritakan perasaannya kepada kaum wanita yang ada di rumahnya.
Seorang wanita tua berkata, "Aku akan membuat tipu daya agar kau mendapatkannya."
Kemudian, wanita tua itu duduk di pinggir jalan. Ketika pemuda itu lewat untuk shalat jamaah seperti biasanya, wanita itu memanggilnya.
Dia berkata kepadanya, "Nak, aku ini perempuan tua. Aku memiliki kambing di dalam rumah. Aku ingin minum susu, tetapi aku tidak kuat lagi memeras susunya. Apakah kau bisa menolongku?"
Pemuda itu menyanggupinya. Dia pun masuk ke dalam rumah untuk memeras susu. Sampai di dalam rumah, dia tidak menemukan kambing. Dia menemukan seorang gadis cantik setengah telanjang yang serta-merta ingin memeluknya. Pemuda itu menghindar. Gadis cantik itu terus merayu dan mengajaknya untuk melakukan perbuatan maksiat yang dilarang Allah Swt. Pemuda itu tetap tidak mau. Gadis cantik itu berteriak minta tolong. Ketika orang-orang berdatangan memenuhi teriakan gadis itu. Gadis itu bilang kalau pemuda itu mengajaknya berbuat tidak senonoh dan hendak memperkosanya.
Kemudian, orang-orang memukulinya beramai-ramai, lalu mengikat pemuda itu dan Mereka menyeretnya untuk menghadap Umar bin Khatab. Begitu sampai di hadapan Umar, Umar pun kaget melihat wajah pemuda itu, dalam hati dia berdoa, "Ya Allah, jangan kau buat prasangka baikku kepada pemuda ini salah!" Orang-orang menceritakan masalahnya, sebagaimana dikatakan gadis itu. Umar lalu menoleh pada pemuda yang sudah babak belur karena di pukuli itu. Pemuda itu menceritakan apa yang dialaminya.
Umar bin Khatab bertanya kepada Pemuda Tampan, "Apakah kau bisa mengenali wanita tua yang minta tolong kepadamu itu?"
Pemuda itu menjawab, "Ya, aku bisa mengenalinya."
Akhirnya , Umar mengumpulkan seluruh wanita di kota Madinah. Wanita tua yang hendak di cari tidak ada di antara mereka. Tak lama setelah itu ada wanita tua lewat.
Pemuda itu spontan berkata, "Itu dia wanita yang memperdayaiku! "
Umar memberi perintah agar wanita itu menghadap. Begitu ada di hadapannya, Umar melepaskan jubah luarnya dan menyelimutkannya pada tubuh wanita.
Kemudian, Umar berkata, "Ayo katakanlah dengan jujur padaku, apa sebenarnya yang terjadi. Apa yang kau lakukan pada anak pemuda ini?"
Wanita tua itu akhirnya menceritakan hal yang sesungguhnya, dia tidak berani berbohong. Apa yang dikatakan wanita itu persis seperti yang diceritakan pemuda itu.
Seketika itu, Umar berkata, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan orang yang mirip dengan Nabi Yusuf di tengah-tengah kita."
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 10.35.MD
 |
|
|
|
|
|
Gadis Cerdas Adalah Gadis Impian |
Seorang pemuda Arab yang tampan rupawan, shalih, dan sangat cerdas berniat untuk dapat menikah dengan seorang gadis shalihah dan cerdas seperti dirinya. Dari sinilah di mulai pengembaraan si pemuda tersebut dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk mencari gadis impian yang di idamkannya.
Pada suatu ketika, dia berjalan menuju kabilah di Yaman. Di tengah perjalanan, dia berjumpa dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan bersama lelaki itu.
Pemuda Tampan yang cerdas itu menyapa dengan ramah lelaki yang di jumpainya, "Hai Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?" Spontan lelaki itu menjawab, "Hai bodoh, kau ini bagaimana? Aku menunggang kuda dan kau juga menunggang kuda. Bagaimana kita bisa saling membawa?"
Pemuda itu hanya diam saja mendengar jawaban lelaki tersebut.
Lalu keduanya terus melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya, mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya. pemuda itu bertanya, "Menurutmu, buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya, atau belum, ya?"
Seketika, lelaki itu menjawab, "Pertanyaan mu itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata dan kepalamu, buah-buahan itu masih ada di pohonnya dan belum dipanen, kok kamu bertanya, apakah buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?"
Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki itu. lalu, keduanya melanjutkan perjalanan. Baru sebentar berjalan, mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mengiring jenazah. pemuda itu berkata, "Menurutmu, yang diiring dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati, ya?"
Lelaki itu menjawab, "Aku semakin tidak mengerti denganmu. Aku tidak pernah menemukan pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan dibawa untuk dikuburkan. Tentu dia sudah mati"
pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sepatah kata pun atas komentar lelaki itu. Akhirnya, keduanya sampai di rumah lelaki itu. Dia mengajak pemuda itu menginap di rumahnya. Dia merasa kasihan, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih dan membutuhkan waktu untuk istirhat.
Lelaki itu memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik. Begitu tahu ada seorang tamu menginap, anak gadisnya itu bertanya, ''Ayah, siapa dia?" "Dia itu pemuda paling bodoh yang pernah aku temukan," jawab ayahnya.
Anak gadisnya itu malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya, "Bodoh bagaimana?" Ayahnya langsung menceritakan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaan yang di ajukannya.
Mendengar cerita ayahnya, anak gadis itu berkata, ''Ayah ini bagaimana? Dia itu tidak bodoh. Justru dia sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya mengandung makna tersirat. Ketika dia mengatakan, 'Apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?', sebenarnya maksudnya adalah, 'Apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa kita pada suasana yang lebih akrab?'
Ketika dia mengatakan, 'Buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?' Maksudnya, 'Apakah pemiliknya sudah menjualnya ketika sebelum dipanen, atau belum?' Sebab, jika telah menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakannya untuk makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya, 'Apakah jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?' Maksudnya, 'Apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya atau tidak?'
Setelah mendengar apa yang dikatakan putrinya, lelaki itu keluar menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. Keduanya lalu berbincang ¬bincang dengan akrab.
Lelaki itu berkata, "Sekarang aku baru mengerti apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalam perjalanan tadi." Lalu, dia menjelaskan seperti yang dikatakan putrinya. Mendengar itu, sang pemuda bertanya, "Saya yakin itu bukan lahir dari pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu, demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakannya?" "Yang mengatakan hal itu adalah putriku , jawab lelaki itu. Spontan pemuda itu berkata, ''Apakah kau mau menikahkan aku dengan putrimu?”
"Ya."
Setelah melalui pengembaraan panjang, akhirnya pemuda tampan yang cerdas itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan selama ini.
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 4.41.MD
 |
|
|
|
|
|
Herpes zoster Health Article |
Definition Herpes zoster is an acute, localized infection with varicella-zoster virus, which causes a painful, blistering rash. Herpes zoster, or shingles, is caused by the same virus that causes chickenpox. After an episode of chickenpox, the virus becomes dormant in the body. Herpes zoster occurs as a result of the virus re-emerging after many years. The cause of the re-activation is usually unknown, but seems to be linked to aging, stress or an impaired immune system. Often only one attack occurs, without recurrence. If an adult or child is exposed to the herpes zoster virus and has not had chickenpox as a child or received the chickenpox vaccine, a severe case of chickenpox may develop rather than shingles.
After infection with chickenpox, the virus resides in a non-active state in the nerve tracts that emerge from the spine. When it is re-activated, it spreads along the nerve tract, first causing pain or a burning sensation. The typical rash appears in 2 to 3 days, after the virus has reached the skin. It consists of red patches of skin with small blisters (vesicles) that look very similar to early chickenpox. The rash often increases over the next 3 to 5 days. Then, the blisters break forming small ulcers that begin to dry and form crusts. The crusts fall off in 2 to 3 weeks, leaving behind pink healing skin. Lesions typically appear along a single dermatome (the body area served by a single spinal nerve) and are only on one side of the body (unilateral). The trunk is most often affected, showing a rectangular belt of rash from the spine around one side of the chest to the breastbone (sternum). Lesions may also occur on the neck or face, particularly along the trigeminal nerve in the face. The trigeminal has three branches that go to the forehead, the mid-face, and the lower face. Which branch is involved determines where on the face the skin lesions will be. Trigeminal nerve involvement may include lesions in the mouth or eye. Eye lesions may lead to permanent blindness if not treated with emergency medical care.
Involvement of the facial nerve may cause Ramsay Hunt syndrome with facial paralysis, hearing loss, loss of taste in half of the tongue and skin lesions around the ear and ear canal. Shingles may, on occasion, involve the genitals or upper leg. Shingles may be complicated by a condition known as post-herpetic neuralgia. This is persistence of pain in the area where the shingles occurred that may last from months to years following the initial episode. This pain can be severe enough to be incapacitating. The elderly are at higher risk for this complication. Herpes zoster can be contagious through direct contact to an individual who has not had chickenpox, and therefore has no immunity. Herpes zoster may affect any age group, but it is much more common in adults over 60 years old, in children who had chickenpox before the age of one year, and in individuals whose immune system is weakened. The disorder is common, with about 600,000 to one million cases in the U.S. per year. Most commonly, an outbreak of shingles is localized and involves only one dermatome. Widespread or recurrent shingles may indicate an underlying problem with the immune system such as leukemia, Hodgkin's disease and other cancers, atopic dermatitis, HIV infection, or AIDS. People whose immune systems have been suppressed because of organ transplant or treatment for cancer are also at risk.
Symptoms • Warning symptoms of unilateral pain, tingling, or burning sensation limited to a specific part of the body -- pain and burning sensation may be intense • Reddening of the skin (erythema) followed by the appearance of blisters (vesicles) • Grouped, dense, deep, small blisters that ooze and crust Additional symptoms that may be associated with this disease: • Fever, chills • General feeling of malaise • Headache • Lymph node swelling • Vision abnormalities • Taste abnormalities • Drooping eyelid (ptosis) • Loss of eye motion (ophthalmoplegia) • Hearing loss • Joint pain • Genital lesions (female or male) • Abdominal pain Signs and tests Diagnosis is suspected based on the appearance of the skin lesions, and strengthened by a prior history of chickenpox or shingles. It can be confused with herpes simplex. Tests are rarely necessary, but may include: • Viral culture of skin lesion • Tzanck test of skin lesion • Complete blood count (CBC) may show elevated white blood cells, a nonspecific sign of infection • Specific antibody (immunoglobulin) measurement demonstrates elevation of varicella antibodies
Treatment Herpes zoster usually resolves spontaneously, and may not require treatment except for symptomatic relief, such as pain medication. Acyclovir is an antiviral medication that may be prescribed to shorten the course, reduce pain, reduce complications, or protect an immunocompromised individual. Desciclovir, famciclovir, valacyclovir, and penciclovir are similar to acyclovir and may be used to treat herpes zoster. For the greatest effect, acyclovir-like medications should be started within 24 hours of the appearance of pain or burning sensation, and preferably before the appearance of the characteristic blisters. Typically, the drugs are given in oral doses four times greater than those recommended for herpes simplex or herpes genitalia. Severely immunocompromised individuals may require intravenous acyclovir therapy. Corticosteroids, such as prednisone, may occasionally be used to reduce inflammation and risk of post-herpetic neuralgia. They have been shown to be most effective in the elderly population. Corticosteroids have certain risks that should be considered before using them. Analgesics, mild to strong, may be needed to control pain. Antihistamines may be used topically (direct application to the body) or orally to reduce itching. Zostrix, a cream containing capzasin (an extract of pepper), may possibly prevent post-herpetic neuralgia. Cool wet compresses can be used to reduce pain. Soothing baths and lotions, such as colloidal oatmeal bath, starch baths, or lotions and calamine lotion, may help to relieve itching and discomfort. Rest in bed until fever resolves. Keep the skin clean, and do not re-use contaminated items. Nondisposable items should be washed in boiling water or otherwise disinfected before re-use. The person may need to be isolated while lesions are oozing to prevent infection of others -- especially pregnant women.
Expectations (prognosis) Herpes zoster usually clears in 2 to 3 weeks and rarely recurs. Involvement of motor nerves may cause a temporary or permanent nerve palsy. Neuralgia (continued nerve pain) may persist for years in 50% of those over 60 years old who have shingles, particularly if the trigeminal nerve was affected. Eye lesions may lead to permanent blindness and require emergency medical care.
Complications • Post herpetic neuralgia • Secondary bacterial skin infections • Recurrence (rare) • Generalized infection, organ visceral lesions, encephalitis or sepsis in immunosuppressed persons • Blindness (if lesions occur in the eye) • Deafness • Loss of taste • Facial paralysis
Calling your health care provider Call your health care provider if the symptoms indicate herpes zoster, particularly if you are immunosuppressed or if symptoms persist or worsen.
Prevention Prevention is uncertain. Avoid contact with the skin lesions of persons with known herpes zoster infection (shingles or chickenpox) if you have never had chickenpox or the chickenpox vaccine, or ESPECIALLY if your immune system is compromised. The chickenpox vaccine (varicella) is a recommended childhood vaccine. The vaccine may be recommended for teenagers or adults who have never had chickenpox.
From : healthline.com
Read
more! (Selengkapnya ...)
|
posted by Administrator
@ 2.44.PD
 |
|
|
|
| |
| A
HUNDRED MILES OR MORE: A COLLECTION - ALISON KRAUSS |
| Largely composed of Krauss’ impressive contributions
to various projects outside her work with her band Union
Station, this overdue 16-song collection also includes
five new offerings. Krauss’ recent collaboration
with John Waite on a remake of his 1984 hit, “Missing
You,” is here, but they also pair on “Lay
Down Beside Me,” a tender telling of love found
on which both shine. In true bluegrass tradition, “Jacob’s
Dream” is a haunting, heartbreaking story of two
boys who stray from their mother’s side, while
“Away Down the River” is an encouraging
message to a loved one left behind by death (”I’ll
be standing waiting with all who have gone before/I’m
just away down the river a hundred miles or more”).
This collection is a must-have for anyone who appreciates
that Krauss is this generation’s best female vocalist.
Billboard
from : http://www.songmusiclyric.com/
|
| |
| Dynamic
ASP.net menu using datasource from SQL Server database |
| Requirements: Visual Studio 2003, SQL Server 2000,
Steps to perform before you run project: (1) Run Database
Script for SQL 2000, that will create database titled
“ASPNetMenu”, and generate appropriate table
structure. (2) Import Data given in the “ASPNetMenuData.XLS”
file, using Import Data Utility provided by SQL Server
Enterprise manager. (3) Change Connection string according
to your server configurations. |
| |
| TRAFFIC
AND WEATHER - FOUNTAINS OF WAYNE |
| The Fountains’ 2003 album “Welcome Interstate
Managers” may have helped them, somewhat belatedly,
acquire a mainstream audience but, bar getting Rachel
Hunter to star in the “Stacy’s Mom”
video, it was actually pretty much business as usual.
So it’s no surprise to find the inspired songwriting
partnership of Adam Schlesinger and Chris Collingwood
approach their fourth album in much the same way as
the first three. They still write the songs that no
one else seems to get round to, about the people that
no one else seems to notice. They still pen power-pop
tunes so utterly irresistible — “Someone
to Love,” “This Better Be Good,” “Strapped
for Cash” — that they deserve to be every
bit as ubiquitous at radio as the elements of the album’s
title. Oh, and they’re still brilliant. Investigate.
Billboard
from : http://www.songmusiclyric.com/
|
| |
| SQL
Server Examples in ASP.NET using VB.NET |
| I just added a SQL INSERT example VIA web form!
Enjoy! Please leave comments and vote. Thanks! The zip
file contains 6 working examples of various things dealing
with the SQL Server. In the package, I also included
a file that you can import into your database to use
the same tables,columns and rows that I have used. Other
Notes: - Examples One, Two, and Three have extensive
comments. The examples following those contain no comments
because they are exactly the same, except for different
control names and types. - In each file, make sure you
change the connection information. (Username,Password,Server..etc)
I will update this with new examples, such as inserting,
updating, using stored procedures and more! This took
hours so please vote and leave comments!! Note: It is
recommended that you know something about ASP.NET. |
| |
| CASSADAGA
- BRIGHT EYES |
| “Cassadaga,” the sixth proper full-length
from Conor Oberst under the Bright Eyes moniker, is
— at its core — a road album. The travels
the indie superstar undertakes on these 13 country-hued
tunes are chronicled in his most oblique songwriting
territory to date. Cities and states are name-checked,
but the imagery is more dream-like. Religion and mysticism
are hinted at in “Hot Knives,” where a multiguitar
punch is softened by a lovely backing choir, and the
violin-spiked “Four Winds.” The pedal steel-livened
“I Must Belong Somewhere” spells out Oberst’s
quest for contentment, and the orchestral flourishes
of “Clairaudients (Kill or Be Killed)” flirt
with clarity, mirroring a lyrical landscape that abstractly
alludes to fame, war and capitalism. It’s a pleasant
enough, if uneven work. Indeed, “Cassadaga”
takes a relatively subtle approach with its musical
adornments, resulting in a surprisingly quiet, inward-looking
album. Billboard
from : songmusiclyric.com
|
| |
| ArnaTimer
(Freeware) |
This is a freeware program, and the program have
lot
of functionalities to user, If you download this program
you will know about this for example is:
1. show messages
2. sound reminder
3. etc |
| |
| No
Ordinary Girl - Jordan Pruitt - Album Reviews |
Fifteen-year-old Jordan Pruitt has the power
to reverse charges of fogyism in households across
America: The songs on No Ordinary Girl skew heavily
teen-ward (check song titles like “Miss Popularity”
and “Who Likes Who”), but whether you
wear bifocals or a retainer, she’ll reel you
in–before you know it you, too, could be singing
about how you want a cellphone and the keys to the
Mercedes (see “Teenager”). Pruitt made
a name for herself prior to No Ordinary Girl with
two singles; “Outside Looking In” and
“Jump to the Rhythm,” both included here,
burned up the original soundtracks to two Disney Channel
movies. What separates her from the mouse-ears-wearing
pack, though, is genuine promise. Pruitt’s is
a stylish voice–creamy and sweet and a little
quirky. It serves her exceptionally well on these
featherweight songs, not one of which won’t
be relatable to anyone who has ever sought refuge
from the horrors of high school in a pop song. More
important, it’s suited for weightier material–MySpace
subscribers may claim Pruitt as their talented mascot
for now, but don’t be surprised if she’s
belting anthems for minivan drivers a few albums down
the line. –Tammy La Gorce.
from : http://www.songmusiclyric.com/ |
|
| |
|
| Home |
|
|
| SSTeam Banner |
|
|
| Online Story |
|
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Links |
|
| Template by |
 |
| Advertisements |
|
|
|